Gereja Bersejarah di Istanbul
Istanbul adalah sebuah kota di mana berbagai agama hidup berdampingan selama berabad-abad. Terletak di persimpangan antara Eropa dan Asia, banyak peradaban melintasi wilayah ini meninggalkan banyak peninggalan. Hari ini Anda dapat melihat tempat ibadah dari tiga agama utama saling bersebelahan; Kristen, Yahudi, dan Islam. Dinyatakan sebagai ibu kota Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 oleh Konstantinus Agung, Istanbul juga menjadi pusat Kristen. Karena kaisar yang sama menyatakan Kekristenan sebagai agama yang diakui secara resmi, banyak gereja dibuka di kota dan mulai berfungsi sebagai tempat ibadah. Karena mayoritas orang Ottoman adalah Muslim, dan populasi mulai meningkat, beberapa gereja diubah menjadi masjid. Perkembangan lain pada abad ke-15 adalah pengusiran orang Yahudi dari Semenanjung Iberia. Menyusul peristiwa ini, Sultan Ottoman mengundang mereka untuk menetap di tanahnya, meyakinkan mereka bahwa mereka bisa hidup di Istanbul dan menjalankan agama mereka dengan bebas. Akibatnya, banyak orang Yahudi pada abad ke-15 datang ke kota Istanbul.
Akibatnya, tiga agama mulai hidup berdampingan sejak abad ke-15. Setiap kelompok memiliki wilayahnya sendiri di kota tempat mereka dapat memiliki tempat ibadah, sekolah, dan apapun yang mereka butuhkan sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka. Mereka bahkan memiliki pengadilan mereka sendiri. Jika dua orang yang menganut agama yang sama berselisih, mereka akan ke pengadilan mereka. Hanya jika terjadi perselisihan antara orang-orang dari agama yang berbeda, pengadilan Muslim akan menjadi tempat yang dituju sebagai pengadilan independen.
Berikut adalah daftar gereja penting di Istanbul:
Gereja Mary of the Mongols (Maria Muhliotissa)
Satu-satunya gereja dari Era Romawi yang masih berfungsi sebagai gereja adalah Gereja Mary of the Mongols di daerah Fener, Istanbul. Dalam bahasa Turki disebut Bloody Church (Kanli Kilise). Gereja ini memiliki kisah yang menarik. Putri Kaisar Bizantium Michael VIII, Maria Despina Palaiologina, dikirim untuk menikah dengan Hulagu Khan, yang merupakan penguasa Mongol dari Ilkhanate. Namun, Hulagu Khan meninggal sebelum ia tiba. Setelah itu, ia menikah dengan putranya Abaqa Khan dan menjadi seorang ratu Mongol.
Inilah Gereja Mary of the Mongols. Setelah penaklukan Istanbul, dengan izin khusus yang diberikan kepada gereja ini, Mary of the Mongols tidak pernah diubah menjadi masjid dan terus berfungsi sebagai gereja secara berkesinambungan dari abad ke-13 hingga kini.
Informasi Kunjungan: Gereja ini buka setiap hari kecuali hari Minggu antara 08.30-16.00.
Bagaimana menuju Maria Muhliotissa Church (Bloody Church)
Dari Sultanahmet ke Maria Muhliotissa Church (Bloody Church): Naik tram T1 dari stasiun Sultanahmet ke stasiun Eminonu dan ganti ke bus (nomor bus: 99A, 99, 399c), turun di stasiun Balat, dan berjalan sekitar 5-10 menit.
Dari Taksim ke Maria Muhliotissa Church (Bloody Church): Naik metro M1 dari stasiun Taksim ke stasiun Halic, ganti ke bus (nomor bus: 99A, 99, 399c), turun di stasiun Balat, dan berjalan sekitar 5-10 menit.

Gereja St. George dan Patriarkat Ekumenis (Aya Georgios)(Aya Georgios)
Istanbul telah menjadi pusat Kekristenan Ortodoks selama berabad-abad. Itulah sebabnya ada gereja yang memegang gelar Gereja Patriarkal. Patriark adalah setara dengan Paus dalam Kekristenan Ortodoks dan kedudukan His All Holiness, yang merupakan gelar resmi, berada di Istanbul. Dalam perjalanan sejarah, terdapat beberapa gereja patriarkal dan kedudukan tahta berpindah beberapa kali dari waktu ke waktu. Gereja patriarkal pertama dan yang paling terkenal adalah Hagia Sophia. Setelah Hagia Sophia diubah menjadi masjid, gereja patriarkal dipindahkan ke Gereja Rasul-Rasul Suci (Biara Havariyun). Namun Gereja Rasul-Rasul Suci dihancurkan untuk membangun Fatih Mosque dan gereja patriarkal harus dipindahkan sekali lagi ke Gereja Pammakaristos. Kemudian, Gereja Pammakaristos diubah menjadi masjid dan gereja patriarkal berpindah beberapa kali ke gereja-gereja berbeda di kawasan Fener. Akhirnya, pada abad ke-17, St. George menjadi gereja patriarkal dan gereja ini masih menyandang gelar yang sama. Saat ini di seluruh dunia lebih dari 300 juta umat Ortodoks mengikuti gereja ini sebagai gereja pusat mereka.
Bagaimana menuju Gereja Saint George dan Patriarkat Ekumenis (Aya Georgios)
Dari Sultanahmet ke Gereja Saint George dan Patriarkat Ekumenis (Aya Georgios): Naik tram T1 dari stasiun Sultanahmet ke stasiun Eminonu dan ganti ke bus (nomor bus: 99A, 99, 399c), turun di stasiun Balat, dan berjalan sekitar 5-10 menit.
Dari Taksim ke Gereja Saint George dan Patriarkat Ekumenis (Aya Georgios): Naik metro M1 dari stasiun Taksim ke stasiun Halic, ganti ke bus (nomor bus: 99A, 99, 399c), turun di stasiun Balat, dan berjalan sekitar 5-10 menit.

Gereja St. Steven (Sveti Stefan / Metal Church)
Gereja St. Steven adalah gereja Bulgaria tertua di kota Istanbul. Mengikuti doktrin Ortodoks Kekristenan, orang Bulgaria melakukan kebaktian mereka di gereja patriarkal selama berabad-abad. Satu-satunya masalah kecil adalah bahasa. Orang Bulgaria tidak pernah mengerti khotbah karena khotbah disampaikan dalam bahasa Yunani. Untuk alasan ini, mereka ingin memisahkan gereja mereka dengan mengadakan ibadah dalam bahasa mereka sendiri. Dengan izin Sultan, mereka membangun gereja mereka sepenuhnya dari logam di atas pondasi kayu. Potongan-potongan logam dibuat di Wina dan dibawa ke Istanbul melalui Sungai Donau. Dibuka pada tahun 1898, gereja ini masih dalam kondisi baik, terutama setelah renovasi akhir pada tahun 2018.
Informasi Kunjungan: Buka setiap hari antara 08.00-16.00.
Bagaimana menuju Gereja St. Steven (Sveti Stefan / Metal Church)
Dari Sultanahmet ke Gereja St. Steven (Sveti Stefan / Metal Church): Naik tram T1 dari stasiun Sultanahmet ke stasiun Eminonu dan ganti ke bus (nomor bus: 99A, 99, 399c), turun di stasiun Balat, dan berjalan sekitar 5-10 menit.
Dari Taksim ke Gereja St. Steven (Sveti Stefan / Metal Church): Naik tram T1 dari stasiun Sultanahmet ke stasiun Eminonu dan ganti ke bus (nomor bus: 99A, 99, 399c), turun di stasiun Balat, dan berjalan sekitar 5-10 menit.

Gereja Holy Trinity (Aya Triada Church) di Taksim
Terletak di jantung kota baru Taksim, Gereja Holy Trinity adalah salah satu gereja Ortodoks Yunani di kota Istanbul yang berada dalam kondisi terbaik. Gereja ini terjaga dengan baik terutama karena lokasinya. Mayoritas restoran dan toko di sisi luar gereja dimiliki oleh gereja tersebut. Hal ini memberi gereja sumber pendapatan yang cukup untuk dapat melakukan renovasi dengan pendanaannya sendiri. Mayoritas gereja di kota mengalami kesulitan ekonomi karena tidak ada komunitas Ortodoks besar yang tersisa di Istanbul. Namun gereja ini membiayai kebutuhan sendiri serta beberapa gereja lain di kota.
Informasi Kunjungan: Buka setiap hari antara 09.00-18.00.
Bagaimana menuju Gereja Holy Trinity (Aya Triada Church)
Dari Sultanahmet ke Gereja Holy Trinity (Aya Triada Church): Naik tram T1 dari stasiun Sultanahmet ke stasiun Kabatas, ganti ke funikular F1 ke stasiun Taksim, dan berjalan sekitar 3 menit.

Gereja St. Anthony of Padua
Teretak di Jalan Istiklal, St. Anthony adalah gereja Katolik Latin terbesar kedua di Istanbul. Arsitek bangunan ini adalah arsitek yang sama yang membangun Monumen Republik di Lapangan Taksim, Giulio Mongeri. Gereja ini juga memiliki beberapa bangunan di sekelilingnya yang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi orang-orang yang bertanggung jawab di gereja dan toko-toko yang memberi pendapatan bagi gereja dari sewa. Dengan gaya Neo-Gotik, gereja ini adalah salah satu yang wajib dikunjungi di Jalan Istiklal.
Informasi Kunjungan: Buka setiap hari antara 08.00-19.00.
Dari Sultanahmet ke Gereja St. Anthony of Padua: Naik tram T1 dari stasiun Sultanahmet ke stasiun Kabatas, ganti ke funikular F1 ke stasiun Taksim, dan berjalan sekitar 10 menit.

Kata Penutup
Istanbul dianggap sebagai salah satu kota yang menjadi ibu kota budaya dan seni. Ada banyak gereja di Istanbul dengan sejarah yang berbeda-beda. Kunjungi gereja-gereja bersejarah di Istanbul; Anda akan terkagum-kagum oleh masa lalu dan kisah-kisah mereka.